MAKALAH PERKEMBANGAN KOPERASI DI INDONESIA

Rabu, 19 Februari 2014

NAMA : SUCI HADIANA RANGKUTI
PRODI : M.I R 2.1




Kata Pengantar

Segala puji bagi tuhan yang telah menolong hambanya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini memuat tentang “Perkembangan Koperasi di Indonesia”
Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yan telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walapun makalah ini memeiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya.

Medan, 21 Februari 2014




















Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................................1
Daftar Isi.........................................................................................................................    2
BAB I        PENDAHULUAN
                   1.1     Latar Belakang...................................................................................................3
                   1.2         Rumusan Masalah.............................................................................................. 4
         1.3         Tujuan Penulisan................................................................................................. 4
BAB II       PEMBAHASAN
           2.1    Faktor Yang Mendukung Koperasi di Indonesia.................................................5
          2.2     Faktor Yang Menghambat Koperasi di Indonesia...............................................5
BAB III. PENUTUP
          3.1     Kesimpulan........................................................................................................8
          3.2     Saran.................................................................................................................8
Daftar Pustaka....................................................................................................................9
  


















BAB I                                                 
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Di Indonesia pengenalan koperasi memang dilakukan oleh dorongan pemerintah, bahkan sejak pemerintahan penjajahan Belanda telah mulai diperkenalkan. Gerakan koperasi sendiri mendeklarasikan sebagai suatu gerakan sudah dimulai sejak tanggal 12Juli 1947 melalui Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yangsangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi. Paling tidak dengan dasar yang kuat tersebut sejarah perkembangan koperasi di Indonesia telah mencatat tiga pola pengembangan koperasi.Secara khusus pemerintah memerankan fungsi “regulatory” dan “development” secara sekaligus (Shankar 2002).
 Ciri utama perkembangan koperasi di Indonesia adalah dengan pola penitipan kepada program yaitu:
1.       Program pembangunan secara sektoral seperti koperasi pertanian, koperasi desa, KUD.
2.       Lembaga-lembaga pemerintah dalam koperasi pegawai negeri dan koperasifungsional       lainnya.
3.       Perusahaan baik milik negara maupun swasta dalam koperasi karyawan. Sebagai akibatnya prakarsa masyarakat luas kurang berkembang dan kalu adatidak diberikan tempat semestinya.

Selama ini “koperasi” dikembangkan dengan dukungan pemerintah dengan basissektor-sektor primer dan distribusi yang memberikan lapangan kerja XE "lapangan kerja"terbesar bagi penduduk Indonesia. Sebagai contoh sebagian besar KUD XE "KUD" sebagai koperasi program XE "program" di sektor pertanian didukung dengan program pembangunan XE "pembangunan" untuk membangun KUD. Disisi lain pemerintahmemanfaatkan KUD untuk mendukung program pembangunan pertanian untuk swasembada beras seperti yang selama PJP I, menjadi ciri yang menonjol dalam politik XE "politik" pembangunan koperasi. Bahkan koperasi secara eksplisit ditugasi melanjutkan program yang kurang berhasil ditangani langsung oleh pemerintah bahkan bank pemerintah, seperti penyaluran kredit BIMAS menjadi KUT, pola pengadaan beras pemerintah, TRI dan lain-lain sampai pada penciptaan monopoli baru. Sehingga nasib koperasi harus memikul beban kegagalan program, sementara koperasi yang berswadaya  praktis tersisihkan dari perhatian berbagai kalangan termasuk para peneliti dan media masa. Dalam pandangan pengamatan internasional Indonesia mengikuti lazimnya pemerintah di Asia yang melibatkan koperasi secara terbatas sepertidi sektor pertanian (Sharma, 1992). 
Namun uniknya, ternyata koperasi Indonesia selama setengah abad lebih kemerdekaannya, tidak menunjukan perkembangan yang menggembirakan. Koperasi tampak dipermukaan sebagai “bangun perusahaan” yang kokoh dan mampu sebagai landasan  perekonomian, serta dalam sistem ekonomi Indonesia, koperasi berada pada sisi marjinal. Dalam usaha pemulihan krisisi ekonomi Indonesia dewasa ini, sesungguhnya koperasi mendapatkan peluang (opportunity) untuk tampil lebih eksis. Krisis nilai tukar dan kemudian membawa krisis hutang luar negeri, telah membuka mata semua pemerhati ekonomi bahwa fundamental ekonomi yang semula diyakini kesahihannya, ternyata hancur lebur. Karena masih kurangnya pemahaman tentang perkoperasian dan gerakan koperasi di Indonesia, maka makalah ini disusun.

1.2  Rumusan Masalah
Koperasi sebagai salah satu badan usaha yang berkecimpung dalam perekonomian Indonesia. Jadi sudah sewajarnya kita sebagai generasi muda mengetahuihal-hal yang berkaitan dengan koperasi tersebut.


1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Menjelaskan Faktor-faktor yang mendukung koperasi di Indonesia
1.3.2        Menjelaskan Faktor-faktor yang menghambat koperasi di Indonesia






                                                          BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Faktor-faktor Yang Mendukung Koperasi di Indonesia

Dibawah ini merupakan Faktor pendukung perkembangan koperasi di Indonesia antara lain :
1.       Partisipasi Anggota
2.       Solidaritas antara anggota Koperasi
3.       Pengurus Koperasi yang juga tokoh masyarakat
4.       Skala usaha
5.       Perkembangan modal
6.       Keterampilan manajerial
7.       Jaringan pasar
8.       Jumlah dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM)
9.       Pemilikan dan pemanfaatan perangkat tekno produksi
10.   Sistem manajemen

2.2 Faktor-faktor Yang Menghambat Koperasi di Indonesia
Secara umum, ada beberapa hal yang menjadi latar belakang penghambat perkembangan usahakoperasi di Indonesia :
1.      Terbatasnya kemampuan sumber daya manusia, yang secara langsung mengakibatkan terbatasnya kemampuan manajerial koperasi.
2.      Jaringan distribusi usaha dan geografi yang terbatas.
3.      Belum memiliki sarana infrastruktur yang memadai.
4.      Modal yang terbatas.
5.      Terbatasnya penerapan prinsip-prinsip ekonomi secara konsisten dalam koperasi.
6.      Pelayanan koperasi yang buruk sehingga anggota enggan berkontribusi aktif dalamusaha koperasi.
7.      Rendahnya tingkat kepercayaan anggota terhadap pengurus koperasi yang disebabkanoleh kinerja pengurus koperasi yang buruk.
8.      Rendahnya tingkat partisipasi aktif anggota dalam kegiatan usaha koperasi.
9.      Adanya kontradiksi dalam dualisme tujuan usaha koperasi, dimana disatu sisi, bertujuanuntuk mencari laba sebagai sebuah badan usaha, namun disisi lain, bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya berdasarkan prinsip kekeluargaan dan saling tolongmenolong yang pada dasarnya adalah faktor utama penghambat penerapan prinsip- prinsip ekonomi dalam usaha koperasi untuk mencari laba.
10.  Faktor ekonomi dan politik yang terjadi di Indonesia
Dibawah ini merupakan faktor lain yang menyebabkan sulitnya perkembangan Koperasi di
Indonesia, antara lain :
·         Image koperasi sebagai ekonomi kelas dua masih tertanam dalam benak orang – orang Indonesia sehingga, menjadi sedikit penghambat dalam pengembangan koperasi menjadi unit ekonomi yang lebih besar ,maju dan punya daya saing dengan perusahaan – perusahaan besar.
·         Perkembangan koperasi di Indonesia yang dimulai dari atas (bottom up)tetapi dari atas (top down) ,artinya koperasi berkembang di indonesia bukan dari kesadaran masyarakat, tetapi muncul dari dukungan pemerintah yang disosialisasikan ke bawah.Dalam hal ini seharusnya, pemerintah bekerja double selain mendukung juga harus mensosialisasikanya dulu ke bawah sehingga rakyat menjadi mengerti akan manfaat dan tujuan dari koperasi.
·         Tingkat partisipasi anggota koperasi masih rendah, ini disebabkan sosialisasi yang belum optimal. Masyarakat yang menjadi anggota hanya sebatas tahu koperasi itu hanya untuk melayani konsumen seperti biasa, baik untuk barang konsumsi atau pinjaman. Artinya masyarakat belum tahu esensi dari koperasi itu sendiri, baik dari sistem permodalan maupun sistem kepemilikanya. Keadaan seperti ini tentu sangat rentan terhadap penyelewengan dana oleh pengurus, karena tanpa partisipasi anggota tidak ada kontrol dari anggota nya sendiri terhadap pengurus.
·         Manajemen koperasi yang belum profesional, ini banyak terjadi di koperasi koperasi yang anggota dan pengurusnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah.
·         Pemerintah terlalu memanjakan koperasi, ini juga menjadi alasan kuat mengapa koperasi Indonesia tidak mengalami kemajuan. Selain merugikan pemerintah bantuan seperti ini pula akan menjadikan koperasi tidak bisa bersaing karena terus terusan menjadi benalu negara. Seharusnya pemerintah mengucurkan bantuan dengan sistem pengawasan yang baik, walaupun bentuk dananya hibah yang tidak perlu dikembalikan. Dengan pengawasan dan bantuan akan membantu koperasi menjadi lebih profesional, mandiri dan mampu bersaing.
·         Prinsip koperasi Rochdale bagian kerjasama dan sukarela serta terbuka , tidak dijalankan dengan baik di Indonesia, karena koperasi Indonesia bersifat tertutup dan terjadi pengkotak kotakan. Keanggotaan koperasi hanya berlaku untuk yang seprofesi saja dan menyebabkan pergerakan koperasi tidak maksimal, walaupun sudah di bentuk koperasi sekunder tetapi belum mampu menyatukan kerja sama antar koperasi yang berbeda beda jenis. Oleh karena karena itu,sebaiknya pengenalan koperasi kepada masyarakat sebaik dikenalkan sejak dini,agar masyarakat mengerti dan memahami manfaat dari koperasi sehingga mereka bisa menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di koperasi dengan baik. Selain itu juga harus meningkatkan SDM  dengan kualitas yang bagus baik dari segi pengetahuan, kemampuan dan moral para anggotanya.

BAB III
                  PENUTUP
31  Kesimpulan
Masalah diatas sebagai pacuan buat para generasi muda penerus bangsa agar berperan aktif dalam perkembangan perkoperasian di Indonesia. Salah satunya adalah dengan mengikut sertakan diri dalam koperasi, mempelajari dan memahami apa itu koperasi sebenarnya, dan juga membantu pemerintah dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat yang belum mengetahui apa manfaat dari koperasi dan apa arti koperasi itu sendiri. Biasanya yang belum mengetahui hal tersebut adalah masyarakat yang ada di daerah-daerah pedalaman. Dan untuk masyarakat di kotapun, jangan hanya menjadi anggota koperasi saja tapi memahami dan mengerti apa itu koperasi. Dan dari pemerintahnya sendiripun, harus memfasilitasi atau membangun koperasi di tempat-tempat yang belum terdapat koperasinya, agar masyarakat disana bisa memnafaatkan manfaat dari koperasi. Dan pemerintahpun juga harus gencar memberikan sosialisasi kepada masyarakat betapa pentingnya koperasi sebagai salah satu faktor penyebab kemajuan kegiatan ekonomi Indonesia.

3.2 Saran
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sebuah koperasi adalah partisipasi anggotanya,dan apabila dalam koperasi telah terjadi situasi dimana anggota merasakan tidak adanyamanfaat maupun nilsi tambah yang dapat diperoleh dengan bergabung di koperasi, sebagai akibat dari buruknya kinerja manajerial serta pelayanan koperasi, maka partisipasi dari anggota akan semakin rendah.


Daftar Pustaka

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers